Jumat, 27 Januari 2012

SKRIPSI PENGARUH METODE CERAMAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS VIII SMP ISLAM AL-ASMANIYAH KELAPA DUA KABUPATEN TANGERANG


PENGARUH METODE CERAMAH
TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
 DI KELAS VIII SMP ISLAM AL-ASMANIYAH KELAPA DUA
KABUPATEN TANGERANG


SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam
STAI Muhammadiyah Tangerang















Di Susun Oleh:

MOCHAMMAD YAYAN DIYANA
NIM : 04.05.020
NIMKO : 4271010104022



JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM MUHAMMADIYAH
TAHUN AKADEMIK 2008 M/1429 H


ABSTRAKSI



Mochammad Yayan Diyana, Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Pendidikan merupakan usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik dalam peranannya di masyarakat pada masa yang akan datang. Dan bagi seorang pendidik disamping harus menguasai bahan dan materi pelajaran, tentu pula harus mengetahui bagaimana cara materi pelajaran itu disampaikan.
Tujuan penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui adanya pengaruh metode ceramah terhadap prestasi belajar siswa pada bidang studi pendidikan agama islam.
Adapun penelitian ini bertitik tolak pada pemikiran bahwa metode ceramah dapat meningkatkan prestasi belajar siswa jika seorang pendidik dapat menggunakannya secara efektif dan efisien.
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode survei dan menginventarisasikan teori-teori yang berkaitan dengan metode ceramah yang diberikan kepada anak-anak usia menengah pertama dalam mencapai prestasi belajar.
Untuk mengetahui pengaruh metode ceramah terhadap prestasi belajar pendidikan agama islam di kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, penulis menggunakan rumus product moment dari Karl Person, sehingga dihasilkan “r” hitung sebesar 0,14. Besar derajat hubungan antara dua variabel dalam penelitian ini termasuk kategori lemah. 
















PERSETUJUAN


PENGARUH METODE CERAMAH
TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DI KELAS VIII SMP ISLAM AL-ASMANIYAH KELAPA DUA
KABUPATEN TANGERANG


Di Susun Oleh:

MOCHAMMAD YAYAN DIYANA
NIM : 04.05.020
NIMKO : 4271010104022


Disetujui Oleh,


Pembimbing I
Pembimbing II





Drs. Suhardi, M. Ag
NBM : 670725





Drs. Asep Suhendar, M. Pd
NBM : 1037257


Mengetahui,
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah
(STAIM) Tangerang






Drs. HM. Bay Masruri, MM.
NBM : 603266

PENGESAHAN

Skripsi yang berjudul “PENGARUH METODE CERAMAH TERHADAP PRESTASI BELAJAR PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI KELAS VIII SMP ISLAM AL-ASMANIYAH KELAPA DUA KABUPATEN TANGERANG” telah diujikan dan dipertahankan dalam sidang Munaqosah Skripsi  Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Tangerang pada tanggal 25 September 2008.

Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I).
Tangerang, 14 Nopember 2008

Ketua
Sekretaris




Drs. Nana Sukarna, M. Pd
NBM : 963481




H. Khoirul Anwar, M. Pd
NBM : 963483
Tim Penguji
Penguji I
Penguji II




H. Khoirul Anwar, M. Pd
NBM : 963483




Eti Kurniyati, MA
KTAA : 019402
Mengetahui,
Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah
(STAIM) Tangerang




Drs. HM. Bay Masruri, MM
NBM : 603266



KATA PENGANTAR


Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan nikmat sehat, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang”.
Penulis memilih judul tersebut karena ingin mengetahui seberapa besar pengaruh antara metode ceramah terhadap prestasi belajar siswa.
Penyusunan skripsi ini masih banyak kekurangan, maka dari itu kritik dan saran yang membangun akan penulis terima dengan senang hati.
Penulis menyadari bahwa sebuah keberhasilan tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak, baik bantuan moril maupun material . Untuk itu dengan hati yang tulus dan ikhlas penulis sampaikan rasa hormat dan terima kasih kepada:   
1.             Bapak Drs. H. M. Bay Masruri, MM. selaku Ketua STAI Muhammadiyah Tangerang yang telah membimbing dan memberi penghargaan serta memberi semangat kepada mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Muhammadiyah Tangerang dalam melaksanakan dan menyelesaikan perkuliahan.
2.             Drs. Nana Sukarna, M. Pd. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah memberi dukungan dan semangat kepada mahasiswa dalam menjalani perkuliahan di STAI Muhammadiyah Tangerang.
3.             Drs. H Khoirul Anwar, M. Pd. Sekretaris Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI) yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan perkuliahan di STAI Muhammadiyah Tangerang. 
4.             Bapak Drs. Suhardi, M. Ag, selaku pembimbing I yang tak kenal lelah memberikan bimbingannya kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan skripsinya.
5.             Bapak Drs. Asep Suhendar, M. Pd selaku pembimbing II yang senantiasa memberikan perhatian dan bimbingan kepada penulis, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan penulisannya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan.
6.             Kepada para Dosen yang mengajar di STAI Muhammadiyah Tangerang yang telah mencurahkan ilmu mereka dan bimbingan mereka kepada mahasiswa yang menjalankan perkuliahan di STAI Muhammadiyah Tangerang.
7.             Staf Tata Usaha yang telah memberikan bimbingan dan pelayanan administrasi kepada penulis selama menjalankan perkuliahan di STAI Muhammadiyah Tangerang.
8.             Ayahanda Drs. Adung Zapen S. Ag, Ibunda Ursih Suhaemi, Kakanda dan Adinda, serta semua keluarga yang tercinta yang telah memberikan dorongan baik moril maupun material sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan di STAI Muhammadiyah Tangerang, mudah-mudahan selalu diberikan rahmat dan hidayah oleh-Nya, Amin. 
9.             Bapak H. Achmad Sholihan selaku Ketua Yayasan SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang, yang telah menerima dan membantu penulis dalam menjalani penelitian di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang, untuk menyelesaikan penulisan skripsi ini.
10.         Ibu Hj. Tuti Kholilah S. Pd. I, selaku Kepala Sekolah SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang, yang telah membantu penulis selama menjalani penelitian di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang.
11.         Barudak KOMIT (Komunitas Mahasiswa Islam Tangerang), Amami, Haji Ade, Dudi, Hadad, Dede, Aming, teu hilaf kang Juhro Kumis bos kopi nu  sarereana tos nyemangatan ka abdi, hatur nuhun sadayana.
12.         Rekan-rekan IRKIT (Ikatan Remaja Kitri Bhakti) yang selalu senantiasa memberikan semangat sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
13.         Teman-teman seperjuangan Pencak Silat NIZITSU Kitri Bhakti. Wabil Khusus guru besar Ustad Andri AMB, semoga panjang umur dan dimudahkan rezekinya. Amin.
14.         Teman dan keluarga Renie Hanafiah A. Ma yang selalu mendorong semangat penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan skripsi ini tepat pada waktunya, hatur nuhun moga panjang umur, sehat selalu, murah rezekina, saleureusnamah aa sayang ka neng.
15.         Rekan-rekan Bengkel Putra Yoga Sport, Jilay, Joyo, Gendut, Qoqo, Odong, Betet, Batak, Mame, Karim, Toge, Didin, Wiwik, Zuki, Zaka, Pe’ung, Pandir, Peot. Maju Terus euy pantang mundur.
16.         Rekan-rekan DIKLAT UNITED FOOTBALL CLUB serta seluruh Diklat Mania dimanapun berada sukses dan damai selalu.
17.         Rekan-rekan di Jurusan Pendidikan Agama Islam, serta segenap sahabat, dan semua pihak yang selalu memberikan semangat dan dukungan dalam bentuk apapun yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih semuanya.
Akhirnya kepada mereka senantiasa penulis berharap semoga Allah SWT membalas budi baik tersebut dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan pembaca umumnya. Amin.
                                                                                               Tangerang, 22 Agustus 2008      
Penulis 


DAFTAR ISI

ABSTRAKSI ...............................................................................................................  i
PERSETUJUAN SKRIPSI ........................................................................................  ii
PENGESAHAN ...........................................................................................................  iii
KATA PENGANTAR ................................................................................................  iv
DAFTAR ISI ................................................................................................................  viii
DAFTAR TABEL .......................................................................................................  xi
BAB I PENDAHULUAN ...........................................................................................  1
A. Latar Belakang Masalah ...............................................................................  1
B. Identifikasi Masalah ......................................................................................  4
C. Pembatasan Masalah .....................................................................................  4
D. Perumusan Masalah ......................................................................................  6
E. Manfaat Penelitian ........................................................................................  6
BAB II DESKRIPSI TEORI, KERANGKA BERPIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS ...........................................................................  8
A. Deskripsi Teori ..............................................................................................  8
1. Proses Belajar Mengajar ...........................................................................  8
1.1. Pengertian Belajar ...........................................................................  8
1.2. Pengertian Mengajar .......................................................................  11
1.3. Pengertian Proses Belajar Mengajar ................................................  13
2. Metode Ceramah .....................................................................................  14
2.1. Pengertian Metode Ceramah ..........................................................  14
2.2. Macam-macam Metode ..................................................................  16
2.3. Keunggulan Dan Kelemahan Metode Ceramah .............................  18
2.4. Model Mengajar Menggunakan Metode Ceramah .........................  22
3. Prestasi Belajar .........................................................................................  26
3.1. Pengertian Prestasi Belajar ..............................................................  26
3.2. Jenis-jenis Belajar ............................................................................  28
3.3. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar ......................  29
4. Pendidikan Agama Islam .........................................................................  31
4.1. Pengertian Pendidikan Agama Islam ..............................................  31
4.2. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam ......................................  31
4.3. Kebutuhan Manusia Pada Agama ..................................................  36
4.4. Tujuan Pendidikan Agama Islam ....................................................  37
B. Kerangka Berpikir .........................................................................................  38
C. Perumusan Hipotesis .....................................................................................  39
BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................................  41
A. Tujuan Khusus Penelitian ..........................................................................  41
B. Waktu Dan Tempat Penelitian ...................................................................  41
C. Metode Penelitian ......................................................................................  42
D. Variabel Penelitian .....................................................................................  42
E. Teknik Pengambilan Sampel ......................................................................  44
F. Teknik Pengumpulan Data .........................................................................  45
G. Teknik Pengolahan Data ............................................................................  47
H. Rancangan Uji Hipotesis ...........................................................................  48
BAB IV HASIL PENELITIAN .................................................................................  52
A. Deskripsi Data Hasil Penelitian.................................................................. 52
1. Sejarah Singkat Berdirinya SMP Islam Al-Asmaniyah ........................  52
2. Visi Dan Misi ........................................................................................  52
3. Keadaan Siswa, Guru, Dan Karyawan .................................................  53
B. Pengolahan Data......................................................................................... 55
C. Hasil Penelitian........................................................................................... 61
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................................  63
A. Kesimpulan ................................................................................................  63
B. Saran-saran .................................................................................................  64
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




DAFTAR TABEL



Nomor Tabel

Halaman
Tabel 1
Tabel 2
Tabel 3

Tabel 4

Tabel 5

Tabel 6
Tabel 7
Tabel 8
Tabel populasi berdasarkan jenis kelamin
Interpretasi terhadap angka indeks korelasi
Keadaan siswa/I kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang
Data personal SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang
Keadaan sarana dan prasarana SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang
Hasil angket variabel x
Data prestasi variabel y
Perhitungan untuk memperoleh angka indeks korelasi antara metode ceramah (variabel x) dengan prestasi belajar siswa (variabel y)
44
49
53

53

54

55
57
58



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan faktor utama yang berpengaruh penting untuk perkembangan generasi muda sebagai penerus bangsa, serta pendidikan merupakan usaha untuk menyiapkan siswa yang dapat berperan dalam masyarakat  yang akan datang, baik sebagai individu maupun sebagai warga masyarakat, hal tersebut bisa dilakukan melalui pemberian bimbingan, pelatihan dan pengajaran.
Pendidikan juga merupakan kebutuhan setiap warga negara yang selalu mendambakan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai unsur pokok dalam pembangunan negara. Pendidikan nasional suatu negara mempunyai tujuan tertentu termasuk pendidikan yang ada di Indonesia. Tujuan pendidikan di Indonesia tertuang dalam Undang-undang sistem pendidikan pasal 3 tahun 2003 yang berbunyi:
“Pendidikan nasional berpungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung  jawab.”[1]
                                                                                                    

1
 
Dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran  para pendidik disamping harus menguasai bahan dan materi pelajaran, tentu pula harus mengetahui bagaimana cara materi pelajaran itu disampaikan dan mengetahui karakteristik setiap siswa yang menerima materi pelajaran tersebut. Terkadang kegagalan pendidik dalam menyampaikan materi pelajaran bukan karena pendidik yang kurang menguasai materi, akan tetapi karena pendidik tidak tahu bagaimana cara menyampaikan materi pelajaran tersebut dengan baik, sehingga siswa dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan dan mengasyikan, maka pendidik perlu memiliki pengetahuan tentang pendekatan dan teknik-teknik pembelajaran dengan memahami teori-teori belajar dan teknik mengajar yang baik dan tepat.
Pembelajaran yang terjadi sekarang ini secara umum di sekolah menunjukan bahwa banyak siswa yang datang ke sekolah secara terpaksa, karena sistem pembelajaran yang cenderung menggunakan sistem yang mengikat. Untuk itu agar perasaan terpaksa dalam dalam belajar tidak berlanjut, maka sekolah harus melakukan perubahan-perubahan dalam kerangka berpikir pendidik dan para siswanya.
Para pendidik di sekolah sebagai penanggung jawab pembelajaran dalam institusi, sekolah harus membuat terobosan-terobosan pengajaran untuk memecahkan problematika belajar para siswanya. Setelah itu pendidik memberikan teknik-teknik belajar kepada siswa tentang bagaimana cara belajar yang baik. Dan dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan serta mengasyikan  bagi para siswa, maka para pendidik diharapkan dapat menggunakan metode-metode belajar yang sesuai. Dengan demikian  perlu bagi para pendidik  mengadakan perbaikan  dalam proses belajar mengajar  agar pengajaran dan pendidikan mencapai sasaran yang tepat sesuai dengan yang diinginkan.
Efektivitas pembelajaran tidak bisa terjadi dengan sendirinya, tetapi harus diusahakan oleh para pendidik melalui upaya penciptaan kondisi belajar mengajar yang kondusif. Setidak-tidaknya ada tiga langkah yang seharusnya dilakukan pendidik dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang efektif, yakni:
1. Membangun motivasi siswa.
2. Melibatkan siswa dalam proses belajar mengajar.
3. Pandai menarik minat dan perhatian siswa.
Sementara itu penggunaan metode untuk mencapai tujuan yang diharapkan dalam proses belajar mengajar sudah baik, dan faktor-faktor belajar siswa juga berjalan dengan baik. Dan bila semuanya sudah berjalan dengan baik, maka diharapkan prestasi belajar siswa dapat ditingkatkan.
Dari uraian latar belakang masalah di atas penulis tertarik untuk menelitinya dengan mengambil judul skripsi “Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang”.



B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, maka diajukan beberapa pertanyaan yang antara lain:
  1. Apakah metode ceramah mempengaruhi prestasi belajar siswa?
  2. Apakah prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh guru?
  3.  Berapa besar pengaruh guru terhadap prestasi belajar siswa?
  4. Apakah terdapat hubungan yang positif anatara metode ceramah dan prestasi belajar siswa?
  5. Bagaimana tingkat penguasaan guru terhadap metode mengajarnya?  

C. Pembatasan Masalah
Metode ceramah adalah salah satu metode mengajar yang banyak digunakan oleh pendidik, karena dinilai lebih mudah dimengerti dan dicerna oleh para siswa hanya bagaimana pendidik menggunakannya. Namun perlu diketahui bahwa metode ceramah juga mempunyai kekurangan dan kelebihannya bagi seorang pendidik dan siswa. Adapun kekurangan dari metode ceramah ini siswa akan mudah mengalami kejenuhan dalam proses belajarnya dan metode ceramah cenderung menempatkan posisi siswa sebagai pendengar dan pencatat. Metode ceramah mempunyai kelebihan dalam hal penyampaian, karena pendidik mampu menyampaikan pengetahuan yang belum pernah diketahui siswa. Kemampuan ini menjadi optimal jika dikembangkan pola interaksi timbal balik antara pendidik dan siswa.
Namun dalam hal ini masih ada faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi metode ceramah dengan prestasi belajar siswa, seperti halnya faktor lingkungan anak didik, alat sarana dan prasarana sekolah, maupun motivasi yang ada dari peserta didik itu sendiri, seperti motivasi internal atau motivasi yang datang dari dalam diri siswa dan motivasi eksternal atau motivasi yang datang dari luar diri siswa.
Dalam proses mengajar ada beberapa metode mengajar yang dilakukan oleh guru, diantaranya:
1.      Metode Seminar
2.      Metode Ceramah
3.      Metode Praktikum
4.      Metode Diskusi
5.      Metode Karya Wisata
Adapun dalam penelitian ini penulis membatasi hanya pada pengaruh metode ceramah terhadap prestasi belajar pendidikan agama islam.
Dengan adanya strategi belajar mengajar menggunakan metode ceramah maka para siswa akan aktif dalam kegiatan pembelajaran, dengan demikian dapat mencetak siswa yang berprestasi dan memiliki kredibilitas pengetahuan. Sehingga SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang adalah institusi atau lembaga pendidikan umum yang mengintegrasikan kurikulum pendidikan umum yang orientasinya menciptakan pendidikan yang bermutu, islami, dan membentuk pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia. Dengan didukung tenaga terampil dan professional.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas diharapkan dalam penelitian ini penulis memperoleh informasi dan data yang akurat terutama mengenai:
  1. Apakah ada pengaruh antara metode ceramah terhadap prestasi belajar pendidikan agama  Islam di kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang?
Dengan demikian maka dalam perumusan masalah ini menjadi suatu hal pokok dalam proses pencarian data, penulis hanya memfokuskan pada masalah pokok di atas serta faktor-faktor pendukung lain yang kiranya dapat membantu demi kelancaran terselesainya skripsi ini.

E. Manfaat Penelitian
Setiap penelitian tentu ada manfaatnya, adapun hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
  1. Bagi pendidik bidang studi pendidikan agama Islam agar dapat menggunakan metode yang tepat sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.
  2. Untuk melengkapi dan memenuhi persyaratan dalam mencapai gelar Sarjana Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI).
  3. Hasil penelitian ini berupa objektif mengenai masalah-masalah metode ceramah yang berhubungan dengan prestasi belajar di sekolah. Sehingga diharapkan hasil penelitian ini berguna sebagai wacana  berpikir dalam membantu meningkatkan kinerja pendidik sehingga terciptanya pendidikan yang berkualitas.

































[1] UUSPN Bab: 3 Th. 2003


BAB II
DESKRIPSI TEORI KERANGKA BERFIKIR DAN
PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teori
     1. Proses Belajar Mengajar
         1.1 Pengertian Belajar
Kata belajar bukanlah sesuatu yang asing didengar ditelinga guru, orang tua siswa dan orang-orang yang terlibat dalam dunia pendidikan, baik langsung maupun tidak langsung. Tetapi apabila ditanyakan “apakah belajar itu?”, tentu akan ditemukan jawaban yang beraneka ragam tentang pengertian belajar. Keanekaragaman tersebut dipahami sebagai sesuatu yang wajar, karena hal ini menyangkut kepada sudut mana orang memandang tentang pengertian belajar itu sendiri.

8
 
Masalah pengertian belajar ini, para ahli psikologi dan pendidikan mengemukakan rumusan yang berlainan sesuai dengan bidang keahlian mereka masing-masing. Tentu dengan alasan yang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiah.
James O. Whittaker, misalnya, merumuskan belajar sebagai proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman.[1]
Secara bahasa, kata belajar dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia diartikan dengan “berusaha (berlatih dan sebagainya) supaya mendapat kepandaian”.[2] Kepandaian itu sendiri di dalam kamus tersebut dapat diartikan dengan kepintaran (hal-hal yang berhubungan dengan keterampilan), dan kecakapan (hal-hal yang berhubungan dengan perilaku dan tindakan).[3]
Dengan demikian pengertian belajar adalah melakukan usaha atau pelatihan dan sebagainya dengan sengaja supaya mendapatkan kepintaran, kemahiran, dan kecakapan.
Adapun untuk memahami makna belajar secara terminologi (istilah), penulis memandang perlu untuk mengemukakan beberapa definisi tentang belajar yang diberikan oleh beberapa ahli pendidikan diantaranya:
a) Menurut Arthur T. Jersilt belajar adalah “modification of behavior through experience   and training”  yaitu perubahan atau membawa akibat perubahan tingkah laku dalam pendidikan karena pengalaman dan latihan atau karena mengalami latihan.[4]
b) Hilgard dan Bower, dalam bukunya “Theories Of Learning” (1975) mengemukakan, “belajar adalah hubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan, atau kecenderungan respon pembawaan kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang (misalnya kelelahan, pengaruh obat, dan sebagainya)”.[5]

c) Gagne, dalam bukunya “The Condition Of Learning” (1977) menyatakan bahwa, belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa, sehingga perbuatannya berubah dari waktu kewaktu sebelum ia mengalami situasi itu kewaktu sesudah ia mengalami situasi tadi”.[6]
d) M. Arifin M. Ed mengatakan bahwa belajar adalah suatu kegiatan anak didik dalam menerima, menanggapi serta menganalisa bahan-bahan pelajaran yang disajikan oleh pengajar, yang berakhir pada kemampuan untuk menguasai bahan pelajaran yang disajikan itu.[7]
e) Menurut Howard L Kingsley, belajar adalah suatu proses dimana tingkah laku (dalam arti luas) ditimbulkan atau diubah melalui praktikal atau latihan.[8]
f) Drs. Slameto juga merumuskan pengertian tentang belajar. Menurutnya belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.[9]
Dari beberapa pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah penambahan pengetahuan dan perubahan tingkah laku secara sengaja dengan melalui pengamatan dan penelitian sehingga memperoleh perilaku baru atau meningkatkan perilaku yang telah ada.

         1.2 Pengertian Mengajar
Mengajar bukan tugas yang ringan bagi guru. Konsekuensi tanggung jawab guru juga berat. Di kelas, guru akan berhadapan dengan sekelompok anak didik dengan segala persamaan dan perbedaannya. Sikap dan perilaku anak didik bervariasi dengan indikator pendiam, suka bicara, suka mengganggu, aktif belajar, gemar menggambar, gemar menulis, malas, dan sebagainya. Sebagai anak didik mereka masih memerlukan bimbingan dan pembinaan dari guru supaya menjadi anak yang cakap, aktif, kreatif, dan mandiri serta bertanggung jawab atas perbuatannya.[10]
Mengajar juga sebagai profesi menjadikan tugas guru secara langsung menyentuh manusia menyangkut kepentingan dan kebutuhannya untuk tumbuh dan berkembang ke arah kedewasaan dan kemandirian melalui proses pembelajaran. Pengajaran yang dilakukan oleh guru itu dilaksanakan dalam interaksi edukatif antara guru dan murid yaitu antara keadaan internal dan proses kognitif siswa. Proses kognitif tersebut menghasilkan suatu hasil belajar yang terdiri dari informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikaf, dan siasat kognitif. Karena itu guru menempati posisi yang lebih penting, karena ia akan membawa murid-muridnya ke arah tujuan yang telah ditetapkan.[11]
Dalam buku “Strategi Belajar Mengajar” karangan W. Gulo menyatakan bahwa mengajar adalah suatu usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar secara optimal.[12]
Sedangkan Prof. Dr. H. Ramayulis menguraikan pendapat dari dua ahli pendidikan mengenai pengertian belajar, yaitu:
Menurut H. M. Arifin, merumuskan mengajar sebagai suatu kegiatan penyampaian bahan pelajaran kepada pelajar agar dapat menerima, menanggapi, menguasai, dan mengembangkan bahan pelajaran itu.
Menurut Rostiyah NK. Menyatakan mengajar adalah bimbingan kepada anak dalam proses belajar.[13]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah tingkah dan fase yang dilalui anak atau sasaran didik dalam mempelajari sesuatu melalui bimbingan yang diberikan oleh pendidik untuk menghasilkan suatu perubahan tingkah laku pada diri anak, baik asfek kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

         1.3 Pengertian Proses Belajar Mengajar
Proses belajar mengajar mempunyai makna dan pengertian yang lebih luas, karena dalam proses belajar mengajar tersimpan adanya satu kesatuan kegiatan yang tak terpisahkan antara siswa yang belajar dan guru yang mengajar. Antara kedua kegiatan ini terjalin interaksi yang saling menunjang.
Untuk lebih memahami tentang pengertian proses belajar mengajar Drs. Moh. Uzer Usman dalam bukunya “Menjadi Guru Professional” menguraikannya sebagai berikut:
Proses dalam pengertiannya di sini merupakan interaksi semua komponen atau unsur yang terdapat dalam belajar mengajar  yang satu sama lainnya saling berhubungan dalam ikatan untuk mencapai tujuan, dan guru bertindak sebagai fasilitator yang berusaha menciptakan kondisi belajar mengajar yang efektif.[14]
Belajar diartikan sebagai proses perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dan individu, dan individu dengan lingkungannya. Dalam pengertian terdapat kata perubahan yang berarti bahwa seseorang setelah mengalami proses belajar, akan mengalami perbedaan tingkah laku, baik asfek pengetahuannya, keterampilannya, maupun aspek sikapnya.
Sedangkan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab moral yang cukup berat karena pada prinsipnya mengajar adalah suatu usaha mengorganisasikan lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar.
Jadi dapat disimpulkan bahwa, proses belajar mengajar adalah suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan pendidik  dengan peserta didik  atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.

2. Metode Ceramah
2.1 Pengertian Metode Ceramah
Metode yang diberikan oleh beberapa ahli diantaranya: Pengertian metode dalam bahasa Arab, dikenal dengan istilah “thariqah” yang berarti langkah-langkah strategis dipersiapkan  untuk melakukan suatu pekerjaan.
Dalam filosofis pendidikan, metode merupakan alat yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan.[15]
Sedangkan secara terminologi (istilah) Prof. Dr. H. Ramayulis dalam bukunya “Ilmu Pendidikan Islam” mengemukakan beberapa definisi tentang metode yang diberikan oleh beberapa ahli diantaranya.
1) Hasan Langgulung mendefinisikan bahwa metode adalah cara atau jalan yang harus dilalui untuk mencapai tujuan pendidikan.
2) Abd. Al-Rahman Ghunaimah mendefinisikan bahwa metode adalah cara-cara yang praktis dalam mencapai tujuan pengajaran.
3) Al-Abrasy mendefinisikan pula bahwa metode adalah jalan yang kita ikuti untuk memberikan pengertian kepada murid-murid tentang segala macam metode dalam berbagai pelajaran.[16]

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa metode adalah jalan atau cara yang harus dimiliki dan dipergunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran kepada peserta didik agar tujuan pendidikan bisa tercapai.
Mengenai pengertian ceramah Dr. H. Syaiful Sagala, M. Pd menjelaskan bahwa ceramah adalah penuturan lisan dari guru kepada peserta didik, ceramah juga sebagai kegiatan memberikan informasi dengan kata-kata sering mengaburkan dan kadang-kadang ditafsirkan salah.[17]
Metode ceramah yang berasal dari kata lecture, memiliki arti dosen atau metode dosen, karena metode ini lebih banyak dipergunakan dikalangan dosen, dosen memberikan kuliah mimbar dan disampaikan dengan ceramah dengan pertimbangan dosen berhadapan dengan banyak mahasiswa yang mengikuti perkuliahan.[18]
Sedangkan menurut Dra. H. Zuhairini dan kawan-kawan menjelaskan metode ceramah adalah suatu metode di dalam pendidikan dimana cara menyampaikan pengertian-pengertian materi kepada anak didik dengan jalan penerangan dan penuturan secara lisan.[19]
Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa metode ceramah adalah jalan atau cara yang dipergunakan oleh seorang pendidik dalam menyampaikan pendidikan dan pengajaran dengan penerangan dan penuturan lisan.

2.2 Macam-macam Metode
Mendidik disamping memberi ilmu juga sebagai “suatu seni”. Seni mendidik atau mengajar di sini yang dimaksudkan adalah keahlian di dalam penyampaian pendidikan atau pengajaran (metode mengajar).
Dalam pendidikan islam metode mengajar dengan menggunakan metode yang umum bisa saja digunakan asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip yang mendasarinya yaitu Al-Quran dan Al-Hadits. Metode-metode tersebut diantaranya:
1.      Metode Ceramah
2.      Metode Diskusi
3.      Metode Tanya Jawab
4.      Metode Demonstrasi
5.      Metode Karya Wisata
6.      Metode Penegasan
7.      Metode Pemecahan Masalah
8.      Metode Simulasi
9.      Metode Eksperimen
10.  Metode Unit
11.  Metode Sosio Drama
12.  Metode Kelompok
13.  Metode Studi Kemasyarakatan
14.  Metode Modul
15.  Metode Berprogram[20]

Menurut Drs. Martinis Yamin, M. Pd dalam bukunya “Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi” mengutarakan berbagai metode intruksional yang memungkinkan diterapkan di dalam kelas. Metode-metode tersebut diantaranya:
1.      Metode Ceramah
2.      Metode Demonstrasi Dan Eksperimen
3.      Metode Tanya Jawab
4.      Metode Penampilan
5.      Metode Diskusi
6.      Metode Studi Mandiri
7.      Metode Pembelajaran Terprogram
8.      Metode Latihan Bersama Teman
9.      Metode Simulasi
10.  Metode Pemecahan Masalah
11.  Metode Studi Kasus
12.  Metode Insiden
13.  Metode Praktikum
14.  Metode Proyek
15.  Metode Bermain Peran
16.  Metode Seminar
17.  Metode Simposium
18.  Metode Tutorial
19.  Metode Deduktif
20.  Metode Induktif[21]

Sebenarnya masih banyak metode–metode pembelajaran yang ditemui oleh para ahli pembelajaran atau oleh para pendidik yang telah berpengalaman mengajar beberapa tahun. Tetapi hal yang penting dalam metode ialah seorang pendidik mengerti akan fungsi dan langkah-langkah pelaksanaan metode mengajar. Karena setiap metode pembelajaran yang digunakan bertalian dengan tujuan belajar yang ingin dicapai dan dapat dijadikan pendorong keberhasilan guru dalam proses belajar mengajar.

2.3 Keunggulan Dan Kelemahan Metode Ceramah
Biasanya seorang pendidik untuk mencapai tujuan intruksionalnya dengan menggunakan kata-kata. Bagaimanakah seorang guru mengorganisasikan kegiatan verbalnya itu dengan sebaik-baiknya agar dapat menolong peserta didiknya belajar. Salah satu cara yang dapat dipergunakan guru yaitu berceramah. Setiap penyajian informasi secara lisan dapat di sebut ceramah baik yang formal, maupun yang nonformal.
Ceramah sebagai metode pengajaran memiliki keunggulan-keunggulan dan juga kelemahan.
Menurut W. Gulo keunggulan-keunggulan yang dimiliki oleh metode ceramah antara lain:
1)      Hemat dalam penggunaan waktu dan alat. Melalui ceramah, bahan yang banyak dapat disampaikan dalam waktu singkat. Alat (termasuk media) yang digunakan juga cukup sederhana.
2)      Mampu membangkitkan minat dan antusias siswa. Dengan ceramah, maka informasi tidak hanya disampaikan melalui kata-kata atau pembicaraan saja, tetapi penampilan guru secara utuh sebagai penceramah merupakan alat komunikasi. Dengan demikian, informasi diterima bukan hanya dari apa yang di dengar, tetapi juga dari apa yang di lihat (misalnya mimik, gerak-gerik dan kesungguhan pembicara), dan dari apa yang dirasakan dalam kontak pandang antara guru dan siswa.
3)      Membantu siswa untuk mengembangkan kemampuan mendengarnya. Mendengar itu sendiri dapat  terjadi dalam tiga bentuk.
Pertama, mendengar secara marginal, yaitu mendengar sambil memperhatikan hal-hal lain. Contohnya, mendengar seseorang sambil membaca koran, atau sambil mengerjakan pekerjaan lain.
Kedua, mendengar evaluatif, yaitu mendengar sambil menilai informasi yang didengar dari yang bersangkutan menurut sudut pandang pendengar. Mendengar cara ketiga ialah mendengar proyektif, yaitu mendengar dengan menempatkan diri pada jalan pikiran si pembicara sehingga informasi yang didengar, diterima, dan dipahami dari sudut si pembicara.
4)      Merangsang kemampuan siswa untuk mencari informasi dari berbagai sumber.
5)      Mampu menyampaikan pengetahuan yang belum pernah di ketahui siswa. Kemampuan ini terjadi optimal jika dikembangkan pola interaksi timbal balik antara guru dan siswa.[22]

Di samping keunggulan-keunggulan tersebut di atas W. Gulo juga menguraikan tentang kelemahan-kelemahan yang membatasi kemampuan itu sendiri. Kelemahan-kelemahan tersebut antara lain:
1)      Ceramah cenderung pada pola strategis ekspositorik yang berpusat pada guru, pola interaksi cenderung pada komunikasi satu arah, dengan demikian sukar bagi guru untuk mengetahui dengan pasti sejauh mana siswa memahami informasi yang telah disampaikannya. Peluang terjadinya miscomunication cukup besar. Tidak ada atau kecil peluang bagi siswa untuk berpikir kreatif dan inovatif karena ia “dipaksa” berpikir mengikuti jalan pikiran guru.
2)      Metode ceramah cenderung menempatkan posisi siswa sebagai pendengar dan pencatat.
3)      Keterbatasan kemampuan pada tingkat rendah.
4)      Proses ceramah berlangsung menurut kecepatan bicara dan logat bahasa yang dipakai oleh guru. Ada guru yang berbicara cepat sehingga sukar di ikuti oleh siswa. Ada juga guru yang logat bahasanya dipengaruhi oleh bahasa daerah sehingga sukar ditanggap oleh siswa dari daerah lain.[23]

Dra. H. Zuhairini dan kawan-kawan juga menguraikan mengenai keunggulan dan kelemahan metode ceramah, keunggulannya antara lain:
1)      Dalam waktu relatif singkat dapat disampaikan bahan sebanyak-banyaknya.
2)      Organisasi kelas lebih sederhana, tidak perlu mengadakan pengelompokan murid-murid seperti pada metode lain.
3)      Guru dapat menguasai seluruh kelas dengan mudah, walaupun jumlah murid cukup banyak.
4)      Apabila penceramah berhasil dengan baik, dapat menimbulkan semangat, kreasi yang kontruksif, yang merangsang murid-murid untuk melaksanakan suatu tugas atau pekerjaan.
5)      Metode ini lebih fleksibel dalam arti bahwa jika waktu terbatas (sedikit) bahan dapat dipersingkat, diambil yang penting-penting saja, dan sebaliknya apabila waktunya memungkinkan (banyak) dapat disampaikan bahan yang banyak dan mendalam.[24]

Sedangkan kelemahan-kelemahan dari metode ceramah ini antara lain:
1)      Guru sukar untuk mengetahui pemahaman anak terhadap bahan-bahan yang diberikan.
2)      Kadang-kadang guru sangat mengejar disampaikannya bahan sebanyak-banyaknya, sehingga hanya menjadi bersifat pemompaan.
3)      Pendengar cenderung menjadi pasif dan ada kemungkinan kurang tepat dalam mengambil kesimpulan, sebab guru menyampaikan bahan-bahan tersebut dengan lisan.
4)      Apabila penceramah tidak memperhatikan segi-segi psikologis dan didastis dari anak didik, ceramah dapat bersifat melantur-lantur dan membosankan.[25]

Suasana belajar mengajar tidak efektif apabila pola komunikasi yang terjadi hanya satu arah, yakni dari guru kepada siswa. Menurut pandangan modern, efektivitas pemelajaran sangat ditentukan oleh pola komunikasi multitrafic (multitrafic communication). Dalam pola komunikasi multitrafic ini, komunikasi terjadi antara guru dan siswa serta siswa dan siswa.
Dengan pola komunikasi seperti ini, antara siswa dan guru maupun siswa dan siswa lainnya terjadi pertukaran (sharing) pengetahuan dan pengalaman sehingga proses belajar mengajar lebih bermakna.
Untuk menciptakan pola semacam ini, guru harus memiliki beberapa keterampilan sebagai berikut:
1)      Memiliki keterampilan bertanya yang meliputi pertanyaan menggiring, pertanyaan untuk merangsang siswa berpikir dan mengemukakan gagasan, pertanyaan mengarahkan, dan pertanyaan yang bersifat mengendalikan arus komunikasi.
2)      Memiliki keterampilan memberikan reward dan bentuk-bentuk penghargaan atas pendapat, gagasan, dan pertanyaan siswa.
3)      Terampil dalam memilih dan mempergunakan metode dan media pemelajaran yang mendukung terjadinya pola komunikasi multitrafic.
4)      Memiliki keterampilan memilih dan menyampaikan permasalahan yang dapat merangsang siswa mau berpikir dan melibatkan emosi dalam pemelajaran.
5)      Memahami dan mampu menerapkan pola pendekatan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dengan segenap metode dan media yang mendukungnya.[26]
Jadi untuk meningkatkan keefektifan pengajaran dengan metode ceramah, maka disamping memanfaatkan keunggulannya, juga diupayakan mengatasi kelemahan-kelemahannya.

2.4 Model Mengajar Menggunakan Metode Ceramah
Untuk menjadikan ceramah itu menjadi metode yang baik, perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1)      Metode ceramah digunakan jika jumlah khalayak cukup banyak
2)      Metode ceramah dipakai jika guru akan memperkenalkan materi pelajaran baru
3)      Metode ceramah dipakai yang khalayaknya telah mampu menerima informasi melalui kata-kata
4)      Sebaiknya ceramah diselingi oleh penjelasan melalui gambar dan alat-alat visual lainnya
5)      Sebelum ceramah dimulai, sebaiknya guru berlatih dulu memberikan ceramah.[27]

Dalam kehidupan sehari-hari di sekolah metode ceramah paling populer dikalangan para pendidik. Sebelum metode lain yang dipakai untuk mengajar, metode ceramah yang paling dulu digunakan, hanya bagaimana menggunakan metode ceramah yang efektif dan efisien. Oleh karena itu disarankan agar para pendidik dapat mengikuti langkah-langkah penggunaan metode ceramah di bawah ini:[28]
1) Melakukan pendahuluan sebelum bahan baru diberikan dengan cara sebagai berikut:
a)      Menjelaskan tujuan lebih dulu kepada peserta didik dengan maksud agar peserta didik mengetahui arah kegiatannya dalam belajar, bahkan tujuan itu dapat membangkitkan motivasi belajar jika bertalian dengan kebutuhan mereka.
b)      Setelah itu baru dikemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas. Hal ini dimaksudkan agar peserta didik melihat luasnya bahan pelajaran yang akan dipelajarinya.
c)      Memancing pengalaman peserta didik yang cocok dengan materi yang akan dipelajarinya. Caranya ialah dengan pertanyaan-pertanyaan yang menarik perhatian mereka.
2) Menyajikan bahan baru dengan memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut:
a)      Perhatian peserta didik dari awal sampai akhir pelajaran harus tetap terpelihara. Semangat mengajar memberi bantuan sepenuhnya dalam memelihara perhatian peserta didik kepada pelajarannya.
b)      Menyajikan pelajaran secara sistematis, tidak berbelit-belit dan tidak meloncat-loncat.
c)      Kegiatan belajar mengajar diciptakan secara variatif, jangan membiarkan peserta didik hanya duduk dan mendengarkan, tetapi berilah kesempatan untuk berpikir dan berbuat. Misalnya pelatihan mengerjakan tugas, mengajukan pertanyaan, berdiskusi, atau melihat peragaan.
d)     Memberi ulangan pelajaran kepada response, jawaban yang salah dan benar perlu ditanggapi sebaik-baiknya.
e)      Membangkitkan motivasi belajar secara terus menerus selama perjalanan berlangsung. Motivasi belajar akan selalu tumbuh jika sesuatu belajar menyenangkan.
f)       Menggunakan media pelajaran yang variatif, yang sesuai dengan tujuan pelajaran.
3) Menutup pelajaran pada akhir pelajaran. Kegiatan perlu diperhatikan pada penutupan itu adalah sebagai berikut:
a)      Mengambil kesimpulan dari semua pelajaran yang telah diberikan, dilakukan oleh peserta didik di bawah bimbingan guru.
b)      Memberikan kesempatan pada peserta didik untuk menanggapi materi pelajaran yang telah diberikan terutama mengenai hubungan dengan pelajaran lain.
c)      Melaksanakan penilaian secara komprehensif untuk mengukur perubahan tingkah laku.
Dalam memberikan suatu ceramah seharusnya menggunakan gaya percakapan yang antusias, dan ceramah juga harus disampaikan dengan suara yang cukup nyaring. Banyak guru yang berbicara terlalu lemah, sehingga kelas gaduh. Hal ini dapat menimbulkan frustasi pada siswa yang tidak pandai menangkap arti kata-kata yang di ucapkan oleh guru.
Bahaya lain yang tersembunyi yaitu kecenderungan guru-guru yang biasa menggunakan bahasa yang hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Ini sering dilakukan untuk menunjukan bahwa mereka cerdas, berpendidikan tinggi. Padahal sebenarnya sebagian besar dari mereka tidak memahaminya. Seharusnya jika ingin menggunakan kata-kata baru, terlebih dahulu seorang guru harus memberikan definisinya.
Teknik lain yaitu menggunakan gerakan badan, karena banyak guru dalam pelaksanaan mengajar hanya terpaku di mejanya. Mereka tidak pernah berjalan-jalan diantara tempat duduk siswanya. Penceramah seharusnya bebas bergerak, dengan demikian, ia dapat menarik perhatian siswa-siswanya (seperti sasaran yang bergerak), disamping dapat juga mengetahui apa yang sedang dilakukan oleh siswa-siswanya.
Selanjutnya, begitu memulai pelajaran tataplah muka para siswa adakanlah kontak mata, mereka akan lebih tertarik bila melihat gurunya memberikan perhatian kepada mereka. Selain itu perlu juga dihindarkan kebiasaan-kebiasaan bicara yang kiranya dapat mengganggu mereka. Karena bila digunakan secara berlebihan sudah pasti sangat merugikan. Nada suara yang monoton pun dapat membelokan perhatian terhadap materi pelajaran.
Dalam pendidikan agama islam metode ceramah dapat digunakan hampir pada semua bahan atau materi, baik yang menyangkut masalah aqidah, syari’ah maupun akhlak. Hanya saja pelaksanaannya atau penerapannya harus dilengkapi dengan metode-metode lain yang sesuai.
Jadi dapat disimpulkan, bahwa metode ceramah adalah metode yang sangat sederhana, tetapi justru karena kesederhanaannya inilah metode ini paling banyak digunakan, dan metode ceramah ini dapat menjadikan proses belajar menjadi menyenangkan apabila digunakan secara efektif dan efisien.

      3. Prestasi Belajar
         3.1 Pengertian Prestasi Belajar
Kata prestasi belajar terdiri dari dua kata yaitu prestasi dan belajar, sebelum mengetahui pengertian prestasi belajar secara integral, penulis terlebih dahulu akan menguraikan pengertian prestasi dan belajar secara terpisah.
Secara bahasa, kata prestasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan dengan hasil yang telah dicapai.[29]
Dalam kamus bahasa Indonesia yang lain mengartikan prestasi adalah hasil yang telah dicapai melebihi kemampuan.[30]
Dari dua pengertian di atas, maka dapat di ambil kesimpulan bahwa prestasi adalah hasil yang telah dicapai dari suatu yang kita kerjakan.
Mengenai pengertian belajar, pada pembahasan sebelumnya penulis telah membahas banyak pengertian tentang belajar dan menyimpulkan bahwa belajar adalah penambahan pengetahuan dan perubahan tingkah laku secara sengaja dengan melalui pengamatan dan penelitian sehingga memperoleh perilaku baru atau meningkatkan perilaku yang telah ada.
Dari pengertian prestasi dan belajar di atas, dapat dijelaskan bahwa prestasi belajar merupakan hasil penilaian tugas-tugas yang dilakukan dalam bentuk angka-angka.[31]
A. Tabroni Rusyan menyebutkan prestasi belajar yang dicapai individu merupakan interaksi berbagai faktor yang mempengaruhi, baik dari dalam diri (internal) maupun dari luar (eksternal).[32]
Faktor internal adalah yang telah ada dalam diri seseorang sebagai pembawaan sejak lahir seperti kecerdasan, sedangkan faktor eksternal adalah yang datang dari luar, dari hasil belajar dan bimbingan guru, orang tua maupun masyarakat disekitarnya.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil yang telah dicapai seseorang yang dipengaruhi oleh beberapa faktor dan potensi yang dimilikinya.

3.2 Jenis-jenis Belajar
Walaupun belajar dikatakan berubah, namun untuk mendapatkan perubahan itu bermacam-macam caranya. Setiap perbuatan belajar mempunyai ciri masing-masing. Para ahli dengan melihat ciri-ciri yang ada di dalamnya, mencoba membagi jenis-jenis belajar ini. Oleh karena itu, sampai saat ini belum ada kesepakatan atau keseragaman dalam merumuskannya. A. De Block misalnya berbeda dengan C. Van Parreren dalam merumuskan sistematika jenis-jenis belajar. Demikian juga antara rumusan sistematika jenis-jenis belajar yang dikemukakan oleh C. Van Parreren dengan Robert M. Gagne antara lain:
1)      Belajar Arti Kata-kata
2)      Belajar Kognitif
3)      Belajar Menghapal
4)      Belajar Teoritis
5)      Belajar Konsep
6)      Belajar Kaidah
7)      Belajar Berpikir
8)      Belajar Keterampilan Motorik (Motor Skill)
9)      Belajar Estetis[33]
         3.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Prestasi Belajar
Muhibbin Syah menjelaskan bahwa faktor yang mempengaruhi belajar siswa dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu:
1)      Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), yakni keadaan atau kondisi jasmani dan rohani siswa.
2)      Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa), yakni kondisi lingkungan disekitar siswa.
3)      Faktor pendekatan belajar (approach tolesaring), jenis upaya belajar yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pembelajaran.[34]

Menurut Tabroni Rusyan faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar adalah:
Faktor internal, diantaranya:
1)      Faktor jasmaniah (fisiologi),
2)      Faktor Psykologi, yang terdiri dari:
a) Faktor intelektif  yang meliputi:
     1) Faktor  potensial, yaitu kecerdasan dan bakat
     2) Faktor kecakapan nyata, prestasi yang dimiliki
b) Faktor non intelektif yaitu unsur-unsur kepribadian tertentu seperti: sikap, kebiasaan, minat, kebutuhan motivasi, dan lain-lain.
3)   Faktor kematangan fisik maupun psikis.
Faktor eksternal, diantaranya:
1) Faktor sosial yang terdiri dari:
a) Lingkungan keluarga
b) Lingkungan sekolah
c) Lingkungan masyarakat
d) Lingkungan kelompok
2) Faktor budaya seperti adat istiadat, ilmu pengetahuan, tekhnologi dan kesenian.
3) Faktor lingkungan fisik, seperti fasilitas rumah dan fasilitas belajar.
4) Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan.[35]
Dra. Rostiah, dalam bukunya masalah-masalah ilmu keguruan membagi faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar seorang anak, yaitu:
1)      Cara orang tua mendidik
2)      Suasana keluarga
3)      Pengertian orang tua, dan
4)      Latar belakang kebudayaan.[36]
Dari pendapat-pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa pada dasarnya terdiri atas dua faktor, yaitu:
1)      Faktor internal
2)      Faktor eksternal

      4. Pendidikan Agama Islam
         4.1 Pengertian Pendidikan Agama Islam
Kata pendidikan menurut bahasa Arab disebut dengan “tarbiyah”. Yang berarti pendidikan.[37]
Pendidikan adalah pimpinan orang dewasa terhadap anak dalam perkembangannya ke arah kedewasaan.[38]
Agama berasal dari kata “A Din” yang berarti undang-undang atau hukum religi yang berarti mengumpulkan atau membaca, relegate berarti mengikat. Agama berasal dari kata “A: tidak. Gama: pergi” jadi agama berarti tidak pergi, tetap ditempat atau tidak berubah.[39]
Dalam Ensiklopedia Indonesia, agama diartikan sebagai “himpunan peraturan keagamaan yang dipergunakan sebagai pedoman hidup dalam masyarakat, berguna untuk peningkatan kerohanian dan mencapai suatu kesempurnaan”.[40]
Menurut James Marteneau, agama adalah kepercayaaan kepada Tuhan yang selalu hidup, yakni kepada jiwa dan kehendak yang mengatur alam semesta dan mempunyai hubungan moral dengan manusia.[41]
Secara etimologi Islam asal kata dari “salima” yang artinya selamat sentosa yang berarti juga menyerahkan diri, patuh, dan taat.[42]
Muhammad Abdullah Daaz menyatakan bahwa arti Islam ialah: penyerahan diri secara total dengan sepenuhnya terhadap kehendak Allah tanpa perlawanan.[43]
Secara terminologi, islam berarti ajaran-ajaran yang diwahyukan Allah SWT kepada manusia melalui Nabi Muhammad SAW sebagai Rosul.[44] Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT dalam surat Al-Fath ayat 28:
uqèd üÏ%©!$# Ÿ@yör& ¼ã&s!qßu 3yßgø9$$Î ÈûïÏŠur Èd,ysø9$# ¼çntÎgôàãÏ9 n?tã ÈûïÏd9$# ¾Ï&Íj#ä. 4 4s"x.ur «!$$Î #YÎgx©
Artinya: Dia-lah yang mengutus rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi.

dan surat Al-Imran: 19
¨bÎ) šúïÏe$!$# yYÏã «!$# ÞO»n=óM}$#
Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.
Jadi dari pengertian pendidikan, agama, dan islam, di atas penulis akan menjabarkan mengenai pengertian pendidikan agama islam.
Al-Abrasyi memberikan pengertian bahwa pendidikan islam adalah mempersiapkan manusia supaya hidup dengan sempurna dan bahagia, mencintai tanah air, tegap jasmaninya, sempurna budi pekertinya (akhlaknya), teratur pikirannya, halus perasaannya, mahir dalam pekerjaannya, manis tutur katanya baik dengan lisan atau tulisan.[45]
Menurut Prof. Dr. Hasan Langgulung, pendidikan islam adalah pendidikan yang memiliki empat macam fungsi, yaitu:
1) Menyiapkan generasi muda untuk memegang peranan-peranan tertentu dalam masyarakat pada masa yang akan datang. Peranan ini berkaitan erat dengan kelanjutan hidup (survival) masyarakat sendiri.
2) Memindahkan ilmu pengetahuan yang bersangkutan dengan peranan-peranan tersebut dari generasi tua kepada generasi muda.
3) Memindahkan nilai-nilai yang bertujuan untuk memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat yang menjadi syarat mutlak bagi kelanjutan hidup (survival) suatu masyarakat dan peradaban. Adapun nilai-nilai yang dipindahkan  ialah nilai-nilai yang diambil dari lima sumber, yaitu: Al-Qur’an, sunah nabi, qiyas, kemaslahatan umum, dan kesepakatan atau ijma’ ulama, dan ahli-ahli pikir islam yang dianggap sesuai dengan sumber dasar, yaitu Al-Qur’an dan sunah nabi.
4) Mendidik anak agar beramal di dunia ini untuk memetik hasilnya di akhirat.[46]

Dari uraian tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan islam adalah bimbingan yang dilakukan oleh seorang dewasa kepada peserta didik dalam masa pertumbuhan agar memiliki kepribadian muslim.
4.2 Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Sebelum penulis menjelaskan ruang lingkup pendidikan agama islam tersebut, kita harus melihat terlebih dahulu dasar dari pendidikan islam itu sendiri. Meletakan pola dasar pendidikan islam berarti harus meletakan nilai-nilai dasar agama yang memberikan ruang lingkup berkembangnya proses kependidikan islam dalam rangka mencapai tujuan pendidikan islam.[47]
Prinsip-prinsip di bawah ini dapat dijadikan dasar-dasar pengembangan kependidikan islam, yaitu:
1) Prinsip yang memandang manusia sebagai makhluk yang paling mulia, karena memiliki hakikat dan martabat yang terbentuk dari kemampuan-kemampuan kejiwaannya, dimana akal budinya menjadi tenaga penggerak yang membedakan dari makhluk lainnya. Manusia menurut pandangan islam, di letakan pada posisi khalifah di muka bumi ini. Sebagai khalifah manusia diberi kelengkapan hidup rohani dan jasmani yang memungkinkan dirinya melaksanakan tugas kekhalifahan tersebut.[48]

2) Prinsip yang memandang bahwa manusia bukan saja makhluk pribadi, melainkan juga makhluk sosial, yang berarti makhluk yang harus hidup sebagai anggota masyarakat sesamanya. Manusia harus mampu menjalin hubungan dengan manusia lainnya dalam satu ikatan kekeluargaan yang satu, karena umat manusia seluruhnya adalah “ummatan wahidatan” (umat yang satu) yang dipersatukan dalam tali “ukhuwah islamiyah) sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Hujrat yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒ â¨$¨Z9$# $¯RÎ) ä3»oYø)n=yz `ÏiB 9x.sŒ 4Ós\Ré&ur öNä3»oYù=yèy_ur $\qãèä© Ÿ@ͬ!$t7s%ur (#þqèùu$yètGÏ9 4 ¨bÎ) öä3tBtò2r& yYÏã «!$# öNä39s)ø?r& 4 ¨bÎ) ©!$# îLìÎ=tã ׎Î7yz  

Artinya: Hai manusia, Sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal (QS. Al-Hujrat: 13).

3)      Prinsip moralitas yang memandang bahwa manusia itu pribadi-pribadi yang mampu melaksanakan nilai-nilai moral agama dalam hidupnya, karena itu tanpa nilai-nilai moral kehidupan, manusia akan menyimpang dari fitrah Allah yang mengandung nilai-nilai islam.[49]
Sedangkan ruang lingkup pendidikan islam itu adalah mencakup segala bidang kehidupan manusia di dunia, dimana manusia mampu memanfaatkannya sebagai tempat menanam benih-benih amaliah, yang buahnya akan dipetik di akhirat nanti. Maka pembentukan sikaf dan nilai-nilai amaliyah islam melalui proses kependidikan yang berjalan di atas kaidah ruang lingkup pendidikan islam yang dimaksud di atas diantaranya adalah sebagai berikut:
1)      Lapangan Hidup Keagamaan
2)      Lapangan  Hidup Berkeluarga
3)      Lapangan Hidup Ekonomi
4)      Lapangan Hidup Kemasyarakatan
5)      Lapangan Hidup Politik
6)      Lapangan Hidup Seni Budaya
7)      Lapangan Hidup Ilmu Pengetahuan

         4.3 Kebutuhan Manusia Pada Agama
Sejarah keberadaan manusia dari dulu sampai sekarang selalu ditandai oleh  keterkaitannya terhadap agama, sehingga hampir dapat dikatakan: tidak ada manusia yang tidak beragama. Agama dalam konteks ini dipahami sebagai kepercayaan manusia terhadap kekuatan supranatural (gaib), zat yang maha mutlak atau yang maha tinggi yang kepada-Nya manusia bergantung, memohon perlindungan, serta menyerahkan diri secara total untuk memperoleh keselamatan. Hal ini sejalan dengan beberapa teori yang menjelaskan tentang asal mulanya agama. Diantara teori itu, sebagai berikut:
EB Taylor mengemukakan bahwa asal mula orang beragama muncul karena adanya kesadaran tentang paham jiwa. Kesadaran ini timbul karena manusia menyadari perbedaan antara hal-hal yang hidup dan yang mati.
Menurut Frazer munculnya agama karena manusia mengakui adanya banyak gejala yang tidak dapat diterangkan dengan  akalnya. Makin maju kebudayaan  manusia, makin luas batas akal itu.
Sedangkan Van Gennep mengemukakan bahwa agama muncul karena manusia menghadapi krisis-krisis yang terjadi dalam jangka waktu manusia hidup. Dalam menghadapi masa krisis serupa itu manusia perlu melakukan suatu perbuatan untuk memperteguh imannya dan menguatkan dirinya.[50]

Agama berhubungan dengan kehidupan manusia dalam meraih sukses, dalam meraih kesuksesan itu terkadang manusia mengalami kegagalan yang dapat melahirkan rasa tidak puas, selain itu kegagalan yang berulang-ulang juga dapat mengantarkan seseorang pada rasa kecewa dan putus asa.
Semua persoalan kehidupan yang dialami manusia, jelas memerlukan jawaban. Dan pada kenyataannya, agama mampu memberikan jawaban atas semua persoalan yang tidak dapat dipecahkan oleh akal pikiran manusia tersebut. Atas dasar itu dapat  dikatakan bahwa bagi semua manusia baik primitif maupun modern, agama telah menjadi kebutuhan hidup. Itulah sebabnya, agama dari dahulu hingga sekarang tetap lestari.

         4.4 Tujuan Pendidikan Islam
Tujuan adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau kelompok orang yang melakukan kegiatan. Jadi tujuan ilmu pendidikan islam, adalah sasaran yang akan dicapai oleh seseorang  atau kelompok orang yang melaksanakan pendidikan Islam.[51]
Prof. H. M. Arifin, M. Ed Menjabarkan tujuan teoritis yang terdiri dari berbagai tingkat antara lain:
1)      Tujuan intermedier, yaitu tujuan yang merupakan batas sasaran kemampuan yang harus dicapai dalam proses pendidikan pada tingkat tertentu.
2)      Tujuan incidental, merupakan peristiwa tertentu yang tidak direncanakan, tetapi dapat dijadikan sasaran dari proses pendidikan pada tujuan intermedier.
3)      Tujuan akhir pendidikan Islam pada hakikatnya adalah realisasi dari cita-cita ajaran islam, yang membawa misi bagi kesejahteraan umat manusia sebagai hamba Allah lahir dan batin di dunia dan di akhirat.[52]

Ibnu Khadun menyatakan, bahwa tujuan pendidikan Islam ada dua, yaitu:
1)      Tujuan keagamaan, maksudnya ialah beramal untuk akhirat, sehingga ia menemui Tuhannya dan telah menunaikan hak-hak Allah yang diwajibkan ke atasnya.
2)      Tujuan ilmiah yang bersifat keduniaan, yaitu apa yang  di ungkapkan oleh pendidikan, modern dengan tujuan kemanfaatan atau persiapan untuk hidup.[53]

Jadi dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah adanya keseimbangan antara masalah keduniawian dan keukhrawian, serta membimbing anak agar menjadi seorang muslim sejati yang beriman teguh dan berakhlak mulia, serta berguna bagi masyarakat, agama, dan negara.

B. Kerangka Berfikir
Sehubungan dengan peran seorang pendidik dalam penggunaan metode ceramah dalam meningkatkan prestasi belajar siswa kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua  Kabupaten Tangerang penulis mempunyai pemikiran sebagai berikut:
1)      Minat dan kebiasaan belajar seseorang dipengaruhi oleh dua faktor yaitu, faktor internal dan faktor eksternal.
2)      Penggunaan metode ceramah dapat digunakan secara efektif dan efisien apabila melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
a)       Melakukan pendahuluan: menjelaskan tujuan, mengemukakan pokok-pokok materi, memancing pengalaman peserta didik.
b)      Menyajikan pelajaran secara sistematis: perhatian kepada peserta didik, kegiatan belajar diciptakan secara variatif, memberi ulangan pelajaran, membangkitkan motivasi belajar, dan menggunakan media pelajaran yang  variatif.
c)      Menutup pelajaran pada akhir pelajaran: mengambil kesimpulan, memberikan kesempatan untuk menanggapi materi pelajaran, dan melaksanakan penilaian secara komprehensif.

C. Perumusan Hipotesis
Berdasarkan kerangka teori dan kerangka berpikir maka penulis dapat merumuskan hipotesa penelitian sebagai berikut.
Diduga ada pengaruh antara metode ceramah dengan prestasi belajar siswa di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Untuk membuktikan bagaimana  pengaruh sebenarnya antara metode ceramah dengan prestasi belajar siswa, penulis akan membuktikannya melalui penelitian di lapangan.




[1] Syaiful Bahri Djamarah. 2002. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Rineka Cipta. Cet, Ke-1. Hal 12.
[2] Anomus. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Hal. 108.
[3] Ibid. Hal. 702
[4] H. Syaiful Sagala. 2005. Konsep Dan Makna Pembelajaran. Bandung: CV Alfabeta. Hal. 12
[5] M. Ngalim Purwanto. 1995. Psikologi Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. Hal. 84
[6] Ibid. hal. 7
[7] H. Ramayulis. 2004. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia. Cet. Ke-4. Hal. 126
[8] Syaiful Bahri Djamarah. Op. Cit. Hal. 13
[9] Drs. Syaiful Bahri Djamarah. Ibid.  Hal. 13
[10] Ibid. Hal 74-75
[11] H. Syaiful Sagala. 2005. Administrasi Pendidikan Kontemporer. Bandung: Alfabeta. Cet. Ke-2 Hal. 201
[12] W. Gulo. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. Hal. 8
[13] H. Ramayulis. Op. Cit. Hal. 29
[14] Moh. Uzer Usman. 1990. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosda Karya. Hal. 16
[15] H. Ramayulis. Op. Cit. Hal. 155
[16] Ibid. Hal. 155
[17] H. Syaiful Sagala. Op. Cit. Hal. 201
[18] Martinis Yamin. 2004. Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi. Jakarta: Gaung Persada Press. Hal. 65
[19] Zuhairini. Dkk. 1981. Metodik Khusus Pendidikan Agama. Surabaya: Usaha Nasional. Hal. 8
[20]         H. Zuhairini. Dkk.  Ibid. Hal. 79-82
[21] Martinis Yamin. Op. Cit. Hal. 65-78
[22] W. Gulo. Op. Cit. Hal. 130-140
[23] Ibid. Hal. 140-142
[24] Zuhairini. Dkk. Op. Cit. Hal. 84
[25] Ibid. Hal. 84
[26] Sukadi. 2006. Guru Powerful, Guru Masa Depan. Bandung: Kolbu. Hal. 45-48
[27] H. Syaiful Sagala. Op. Cit. Hal. 202
[28] Ibid. Hal. 202-203
[29] Hamzah Ahmad. Nanda Santoso. 1996. Kamus Besar Bahasa Indonesa. Surabaya: Fajar Mulia. Hal. 295
[30] M.B Rahimsyah. Satyo Adhie. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Aprindo. Hal. 342
[31] Raka Jhoni. 1986. Pengukuran Dan Penilaian Pendidikan. Surabaya: Karya Anda. Hal. 6
[32] A. Tabroni Rusyan. 1989. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remadja Karya. Hal. 81
[33] Syaiful Bahri Djamarah. Op. Cit. Hal. 27-37
[34] Muhibin Syah. Psikologi Pendidikan. Bandung: IAIN SGD. Hal. 132
[35] A. Tabroni Rusyan. Op. Cit. Hal. 81
[36] Rostiana NK. 1986. Masalah-masalah Ilmu Keguruan. Jakarta: Bina Aksara. Hal. 155
[37] H. Ramayulis. Op. Cit. Hal. 2
[38] Ngalim Purwanto. MP. 1998. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis. Bandung: PT. Rosda Karya. Hal. 19
[39] Yusron Razak. Dkk. 2001. Pendidikan Agama. Jakarta: Uhamka Press. Hal. 1
[40] Ibid. Hal. 2
[41] Zuhairini. Dkk. 2004. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara. Hal. 25
[42] Abudin Nata. 1995. Dirasah Islamiyah I (Al-Qur’an Dan Al-Hadits) Jakarta: Raju Grafindo. Hal. 9
[43] Yusron Razak. Op. Cit. Hal. 42
[44] Abudin Nata. Op. Cit. Hal. 19
[45] Ramayulis. Op. Cit. Hal. 3
[46] H. Jamaludin, Abdullah Aly. 1999. Kapita Selekta Pendidikan Islam. Bandung: CV Pustaka Setia. Cet.  Ke-2. Hal. 10
[47] M. Athiyah, Al-Abrasyi, 1993, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, Jakarta: Bulan Bintang, cet, ke-7, hal. 175
[48] Ibid, hal. 78
[49] Ibid, hal. 82
[50] Yusron Razak, Op. Cit, hal. 16
[51] H. Jamaludin, Op. Cit, hal. 14
[52] Ibid, hal. 17
[53] Ramayulis, Op. Cit, hal. 17


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Tujuan Khusus Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1.      Untuk mengetahui sistem pendidikan agama Islam di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
2.      Untuk mengetahui sejauh mana pengaruh metode ceramah terhadap prestasi belajar siswa di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
3.      Untuk memperkaya wawasan dan informasi penulis  dalam bidang pendidikan dan dalam rangka menyelesaikan tugas akhir untuk  memenuhi syarat memperoleh  gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam pada STAI Muhammadiyah Cikokol Tangerang.

B. Waktu dan Tempat Penelitian
      1. Waktu Penelitian
Adapun penelitian ini dilakukan dalam waktu yang singkat, yaitu terhitung dari mulai tanggal 1 Juli sampai dengan 6 Agustus 2008.




41

 


      2. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang Tahun Ajaran 2007-2008.
Adapun penulis memilih sekolah ini karena:
1) Lokasi sekolah berdekatan dengan tempat tinggal penulis                                   
2) Sudah menggunakan sistem Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP)

C.  Metode Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yang peneliti maksud adalah menguji hipotesis dengan menggunakan statistik, maka penelitian ini dikategorikan research verifikatif yang bertujuan menguji kebenaran suatu pengetahuan.
Usaha peneliti rencanakan untuk memperoleh data yang valid yaitu dengan mengambil data melalui angket dari siswa kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, maka peneliti mengajukan rancangan penelitan sebagai berikut.

D. Variabel Penelitian
Variabel sebagai objek penelitian  dimana variabel yang mempengaruhi disebut variabel penyebab, variabel bebas atau independent variabel (x), sedangkan variabel akibat disebut variabel tak bebas, variabel tergantung, variabel terikat atau dipendent variabel (y)
Untuk memudahkan pembahasan dalam penelitian ini, maka penulis menetapkan melalui penganalisaan masalah yang diangkat dalam tema penelitian ini. Adapun tema yang diangkat dalam penelitian ini adalah Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Dengan demikian penulis menetapkan dua variabel penelitian ini yaitu variabel bebas yang diberi simbol (x) dan variabel terikat yang diberi simbol (y), yang dapat digambarkan sebagai berikut:
1. Variabel (x) : Pengaruh Metode Ceramah
2. Variabel (y) : Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Metode ceramah sebagai variabel bebas adalah salah satu metode yang dapat digunakan oleh seorang pendidik untuk meningkatkan minat belajar dan prestasi siswa.
Prestasi belajar sebagai variabel terikat dan dapat didefinisikan sebagai hasil yang telah dicapai oleh siswa setelah melakukan proses belajar.



E. Teknik Pengambilan Sampel
Sebelum menerangkan tentang teknik pengambilan sampel, terlebih dahulu penulis akan menjelaskan mengenai pengertian populasi dan sampel.
a. Populasi
Adapun populasi dan sampel dalam penelitian ini sebagai berikut. Populasi disini adalah keseluruhan objek penelitian atau seluruh wilayah dari objek yang diteliti. “Populasi merupakan suatu data, dapat berwujud manusia, barang, bahan-bahan tertulis dan lain sebagainya”.[1] Sesuai dengan judul skripsi di atas, peneliti mengambil objek penelitian siswa-siswi Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang. Dalam penelitian ini ukuran populasinya 42 orang, hal ini dapat dilihat pada tabel jenis kelamin di bawah ini:
Tabel 1
Tabel Populasi Berdasarkan Jenis Kelamin

No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
VIII
24
18
42
Jumlah
24
18
42

b. Sampel
Sedangkan sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti[2]. Untuk menetapkan ukuran sampel (n) apabila subjeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Jika jumlah subjeknya lebih dari 100 dapat diambil antara 10-15% atau 20-25%.
Dalam penelitian ini seluruh siswa/i kelas VIII dijadikan sampel N=n= 42 karena penelitan dengan studi kasus.

F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Yaitu melakukan pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat kegiatan yang dilakukan.[3] Peneliti melakukan pengamatan langsung dari dekat terhadap objek yang diteliti dari awal sampai akhir penelitian, dengan tujuan agar peneliti dapat memperoleh data yang lengkap. Hal ini dilakukan untuk memperoleh data sebagai berikut:
1) Keadaan Sekolah
2) Keadaan Sarana Dan Prasarana
3) Letak Geografis Sekolah
4) Keadaan Siswa


b. Wawancara
Adalah suatu cara pengumpulan data yang digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya.[4]
Dalam wawancara ini penulis  hanya menunjukan kepada Kepala Sekolah dan guru agama yang bersangkutan.
Alasan penulis menggunakan teknik wawancara adalah karena teknik wawancara dianggap baik untuk memperoleh data langsung dari responden, sehingga penulis mendapatkan data yang akurat, dan hal yang meragukan dapat dinyatakan dan dibuktikan secara langsung.
c. Metode Angket
Angket adalah metode pengumpulan data melalui formulir-formulir yang berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan secara tertulis kepada seseorang atau sekumpulan orang untuk mendapatkan jawaban atau tanggapan dan informasi yang diperlukan oleh peneliti.
Metode ini dipergunakan untuk memperoleh data tentang pengaruh metode ceramah dengan prestasi belajar siswa, dengan memakai beberapa daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelum pelaksanaan penelitian, angket tersebut dibagikan kepada seluruh sampel siswa/i kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Penyebaran daftar pertanyaan (angket) yang dilakukan dengan yang dipilih sebagai sampel, kemudian jawaban tersebut diklasifikasikan menurut skala Liker’s dengan kategori skor
1) Jawaban selalu (skor 4)
2) Jawaban sering (skor3)
2) Jawaban kadang-kadang (skor 2)
4) Jawaban tidak pernah (skor 1)
d. Metode Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinya barang-barang tertulis, metode ini lebih dimengerti dibandingkan dengan metode pengumpulan data yang lain. Dalam menggunakan metode dokumentasi ini, biasanya peneliti membuat instrumen dokumentasi yang berisi instansi variabel-variabel yang akan didokumentasikan dengan menggunakan check list untuk mencatat variabel yang sudah ditentukan dan tinggal membubuhkan tanda check list ditempat yang sesuai.

G. Teknik Pengolahan Data
Setelah data yang diperlukan sudah terkumpul dari hasil angket yang disebarkan pada siswa, maka tindakan selanjutnya adalah melakukan scoring dan tabulasi. Makin besar sampai mendekati populasi maka peluang kesalahan generalisasi semakin kecil, dan sebaliknya makin kecil jumlah sampel menjauhi populasi maka semakin besar kesalahan generalisasi (diberlakukan umum).
Analisa data dilakukan dengan teknik korelasi. Teknik yang digunakan adalah rumus product moment. Secara operasional, analisis data tersebut dilakukan melalui tahap berikut:

H. Rancangan Uji Hipotesis
Rancangan uji hipotesis dapat dijabarkan dalam bentuk hipotesis statistik dengan langkah pengujian hipotesis sebagai berikut:
1.      Rumusan Hipotesis
Ho : Metode ceramah tidak mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
H1 : Metode ceramah mempunyai pengaruh terhadap prestasi belajar siswa di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
2.      Asumsi
a)      Sampel responden adalah acak (random)
b)      Masing-masing responden saling bebas (independent)
3.      Statistik Uji
Pengukuran besarnya pengaruh metode ceramah (x) dan efisiensi dengan prestasi belajar pendidikan agama islam (y) di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang menggunakan korelasi product moment untuk memeriksa apakah terdapat pengaruh antara variabel (x) dengan variabel (y) dengan rumus sebagai berikut:
rxy =
rxy        = Angaka indeks korelasi “r” product moment
N         = Ukuran populasi = ukuran sampel
Σxy      = Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y
Σx        = Jumlah seluruh skor x
Σy        = Jumlah seluruh skor y
Σx2         = Jumlah kuadrat skor x
Σy2       = Jumlah kuadrat skor y
(Σx)2    = Kuadrat jumlah skor x
(Σy)2    = Kuadrat jumlah skor y
4.      Interprestasi Data
Memberikan interprestasi terhadap angka indeks “r” product moment, adalah dengan cara melihat tabel menurut anas sudjana di bawah in:
Tabel 2
Interpretasi Terhadap Angka Korelasi

Besarnya “r”
Product moment (rxy)

Interpretasi
0.00-0.20



0.20-0.40

0.40-0.70

0.70-0.90

0.90-1.00
Antara variabel x dan variabel y memang terdapat korelasi, akan tetapi korelasi itu sangat lemah, sangat rendah, sehingga korelasi itu diabaikan.
Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang lemah atau rendah.
Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sedang atau cukup.
Antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang kuat atau tinggi.
Antara varabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sangat kuat atau sangat tinggi.[5]

Dengan demikian interprestasi dengan jalan berkonsultasi pada tabel nilai “r” product moment (rt) dengan terlebih dahulu mencari derajat bebasnya (db) atau degree of freedom (df) yang rumusnya adalah:
df        = N-nr
df        = degree of freedom
N         = Number of Cases
Nr        = Banyaknya variabel yang dikorelasikan
Dengan diperolehnya df, maka dapat dicari besarnya “r” yang tercantum dalam tabel “r” product moment.
5.       Daerah Kritis Uji
Menggunakan tabel student (distribusi t) dengan a = 0 % (0.10) derajat kebebasan (dk) n-2, maka didapati (0.10). -2 disebut sebagai (t) tabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa:
t=r
a.       Jika to >, t tabel Ho ditolak
b.      Jika to < t tabel maka Ho diterima dengan koefisien determinasi sebesar rs2 100% yang disebut koefisien penentu.
Pada hakikatnya apabila ingin menguji pengaruh, maka sebenarnya tidak lain menguji “ada perbedaan atau tidak”. Kalau ada perbedaan, berarti ada pengaruh. Tetapi jika ingin mengetahui keeratan pengaruh kita berbicara mengenai koefisien determinasi.


[1] Suharsimi Arikunto, 2005, Prosedur Penelitian, Jakarta: Rineka Cipta, hal. 108
[2] Ibid, hal. 109
[3] Riduwan, M. B. A, Op, Cit, hal. 57
[4] Ibid, hal. 56
[5] Sugiono, 2004, Statistika Untuk Penelitian, Bandung: CV Alfabeta, cet. Ke-6 hal. 216








BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Hasil Penelitian
1. Sejarah singkat berdirinya SMP Islam Al-Asmaniyah
Yayasan SMP Islam Al-Asmaniyah dirintis sejak tahun 1424 H/2003 M, berasal dari pondok pesantren Salafiyah yang berdiri tahun 1995 M, dipimpin oleh Ustadz H. Ahmad Ghojali dan pada tanggal 27 Muharram 1424 H/2003 M. Pondok pesantren ini mulai membuka pendidikan formal setingkat SMP bertempat di Jl. Diklat Pemda Dukuhpinang Kelurahan Bojongnangka Kecamatan Kelapa Dua Kabupaten Tangerang Banten menggunakan gudang yang dibeli oleh H. Asman, dengan niat tulus ikhlas beliaupun mewakafkan tanah seluas 3000 m2 untuk pendidikan Yayasan SMP Islam Al-Asmaniyah.
2. Visi Dan Misi
SMP Islam Al-Asmaniyah mempunyai visi terbentuknya manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, cerdas, terampil, berilmu pengetahuan dan teknologi yang berakhlak mulia. Serta SMP Islam Al-Asmaniyah juga mempunyai misi sebagai berikut:
a)      Beriman
b)     

52
 
Bertaqwa kepada Allah SWT
c)      Cerdas
d)     Terampil
e)      Berakhlak Karimah
f)       Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi
g)      Mampu mengaktualisasikan diri dan kehidupan bermasyarakat, bangsa dan negara.
3. Keadaan Siswa, Guru Dan Karyawan
a) Keadaan Siswa

Tabel 3
Keadaan Siswa/I Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah
Kelapa Dua Tangerang

No
Kelas
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
1
VIII
24
18
42
Jumlah
24
18
42


b) Keadaan Guru Dan Karyawan

Tabel 4
Daftar Personal SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua
Kabupaten Tangerang

No
Nama
Jabatan
1
H. Achmad Sholihan
Ketua Yayasan
2
Hj. Tuti Kholilah S. Pd
Kepsek
3
H. Dede Mamad
Guru
4
Drs. Adung Zapen S. Ag
Guru
5
Ahmad Faizi S. Ag
Guru
6
H. Armat Syarifuddin
Guru
7
Nuryanto S. Pd
Guru
8
Parjana A. Ma
Guru
9
Ernawati A. Ma
Guru
10
M. Imron Rosyadi S. Pd
Guru
11
Tajudin S. Ag
Guru
12
H. Ahmad Ghojali
Guru
13
Anwar S. d
Guru
14
Neneng Santriwati A. Ma
Guru
15
Waris Saputra S. Pd
Guru
16
Mochammad Yayan Diyana
Guru
17
Rohayati A. Ma
Guru
18
Iyan Sudrajat S. HI
Guru
19
Endang Artinngsih S. Pd
Guru
20
Maman Nurohman
Guru
21
M. Amrillah A. Ma
Guru
22
Siti Mushibatul Khoeroh
Guru
23
Hj. Siti Aminah
Guru
24
Sarif Hidayatullah
TU
25
M. Syahroni
Penjaga Sekolah


c) Keadaan Sarana Dan Prasarana

Tabel 5
Keadaan Sarana Dan Prasarana
SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang

No
Sarana Prasarana
Jumlah
1
Ruang Belajar
6
2
Ruang Guru
1
3
Mushola
1
4
LAB Komputer
1
5
Perpustakaan
1
6
Lapangan Voly
1
7
Taman Sekolah
1
8
Kantin
1





B. Pengolahan Data
Dalam penelitian ini terdapat 2 variabel, yaitu Pengaruh Metode Ceramah sebagai variabel bebas (variabel X) dan prestasi belajar siswa sebagai variabel terikat (variabel Y). Data variabel X adalah hasil jawaban responden dari angket yang disebarkan dengan memberikan skor kepada tiap-tiap butir pertanyaan, sedangkan data variabel Y adalah hasil nilai rata-rata setiap pelajaran yang dituangkan dalam bentuk raport.
Hasil penelitian ini penulis memperoleh data dengan cara menyebarkan angket kepada 42 siswa/I kelas VIII yang berjumlah 10 pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa/I dengan memberi tanda check list (), kemudian seluruh angket yang telah dijawab sekaligus dijadikan variabel x.
Berikut ini adalah hasil dari pertanyaan yang diberikan kepada anak yang berkaitan dengan masalah metode ceramah pada bidang studi agama islam.
Tabel 6
Hasil Angket Variabel x

Responden
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Jumlah
1
2
4
3
4
4
2
4
2
2
4
31
2
2
4
3
4
4
3
4
3
3
4
34
3
3
4
3
4
4
3
4
3
3
4
35
4
2
4
2
4
4
3
4
3
3
4
33
5
3
4
2
3
4
3
4
3
3
4
33
6
3
4
3
3
4
2
4
3
2
4
32
7
2
3
3
4
4
3
4
3
4
4
34
8
3
4
2
4
4
4
4
3
4
4
36
9
2
4
3
3
4
3
4
3
2
4
32
10
2
4
2
3
4
3
4
3
3
4
32
11
2
4
3
3
4
3
4
3
3
4
33
12
3
4
2
4
4
3
4
3
3
4
34
13
3
4
3
4
4
2
4
3
3
4
34
14
3
4
2
4
4
3
4
3
3
4
34
15
3
4
2
4
4
3
4
3
4
4
35
16
2
4
2
4
4
2
4
3
4
4
33
17
2
4
3
4
4
2
4
3
4
4
34
18
2
4
2
4
4
2
4
3
3
4
32
19
2
4
3
4
4
2
4
3
4
4
34
20
2
4
3
4
4
2
4
3
4
4
34
21
3
4
2
3
2
4
4
3
4
4
33
22
3
4
2
3
4
3
4
3
4
4
34
23
2
4
2
3
4
3
4
3
4
4
33
24
2
4
4
3
4
3
4
3
4
4
35
25
2
4
3
4
4
3
4
3
3
4
34
26
3
4
3
4
4
2
4
3
3
4
34
27
3
4
3
4
3
3
4
3
3
4
34
28
2
4
2
4
4
4
4
3
3
4
34
29
3
4
4
4
4
3
4
3
3
4
36
30
3
4
3
4
4
4
4
3
4
4
37
31
3
4
3
4
4
3
4
3
3
4
35
32
3
4
2
4
4
3
4
3
3
4
34
33
3
4
3
4
4
3
4
3
3
4
35
34
3
4
2
4
4
3
4
3
3
4
34
35
2
4
3
4
4
3
4
3
4
4
35
36
3
4
4
4
4
3
4
3
3
4
36
37
3
4
3
4
4
3
4
3
3
4
35
38
3
4
3
4
4
3
4
3
4
4
36
39
3
4
3
4
4
3
4
3
3
4
35
40
2
4
3
4
4
3
4
3
2
4
33
41
3
4
3
4
4
3
4
3
4
4
36
42
3
4
3
4
4
4
4
3
3
3
35
Jumlah Skor
1432






Tabel 7
Data Prestasi Variabel y

No
Responden
Nilai
1
1
7
2
2
7
3
3
8
4
4
6
5
5
7
6
6
6
7
7
8
8
8
7
9
9
7
10
10
6
11
11
7
12
12
7
13
13
7
14
14
7
15
15
7
16
16
8
17
17
6
18
18
7
19
19
6
20
20
7
21
21
7
22
22
6
23
23
7
24
24
7
25
25
6
26
26
6
27
27
7
28
28
8
29
29
7
30
30
7
31
31
6
32
32
6
33
33
7
34
34
6
35
35
7
36
36
6
37
37
7
38
38
7
39
39
8
40
40
6
41
41
7
42
42
7
Jumlah Skor
286


Tabel 8
Perhitungan Untuk Memperoleh Angka Indeks
Korelasi Antara Metode Ceramah (Variabel x)
Dengan Prestasi Belajar Siswa (Variabel y)

Responden
X
Y
x2
y2
Xy
1
31
7
961
49
217
2
34
7
1156
49
238
3
35
8
1225
64
280
4
33
6
1089
36
198
5
33
7
1089
49
231
6
32
6
1024
36
192
7
34
8
1156
64
272
8
36
7
1296
49
252
9
32
7
1024
49
224
10
32
6
1024
36
192
11
33
7
1089
49
231
12
34
7
1156
49
238
13
34
7
1156
49
238
14
34
7
1156
49
238
15
35
7
1225
49
245
16
33
8
1089
64
264
17
34
6
1156
36
204
18
32
7
1024
49
224
19
34
6
1156
36
204
20
34
7
1156
49
238
21
33
7
1089
49
231
22
34
6
1156
36
204
23
33
7
1089
49
231
24
35
7
1225
49
245
25
34
6
1156
36
204
26
34
6
1156
36
204
27
34
7
1156
49
238
28
34
8
1156
64
272
2
36
7
1296
49
252
30
37
7
1369
49
259
31
35
6
1225
36
210
32
34
6
1156
36
204
33
35
7
1225
49
245
34
34
6
1156
36
204
35
35
7
1225
49
245
36
36
6
1296
36
216
37
35
7
1225
49
245
38
36
7
1296
49
252
39
35
8
1225
64
280
40
33
6
1089
36
198
41
36
7
1296
49
252
42
35
7
1225
49
245
N=42
ΣX=1432
ΣY=286
ΣX2=48894
ΣY2=1964
ΣXY=9756

rxy=

=

=

=

=

= 0.14
Berdasarkan perhitungan di atas, diperoleh nilai koefisien korelasi antara hasil angket metode ceramah terhadap prestasi belajar siswa sebesar 0,14 dan penulis bulatkan menjadi 0.2.
Berdasarkan kriteria penafsiran koefisien korelasi menurut Anas Soedjono adalah berkorelasi sangat lemah atau sangat rendah.
Untuk menguji r = 0.14 = 0.2 signifikan atau tidak, maka perlu diuji (to) t hitungnya yaitu:
t = r 
t = 0.14
t = 0.14
t = 0.14
t = 0.14
t = 0.14  6,385
t = 0,89
Untuk mengetahui harga to signifikan atau tidak, maka harus melihat dengan harga ttabel, dengan dk (derajat kebebasan) adalah N-2 = 42-2 = 40. Diketahui harga ttabel  dengan tingkat kesalahan 5% (tarap kepercayaan 95%), N = 40 sebesar 1.684
Jadi dapat diketahui harga to lebih kecil dari pada ttabel 0,89>1,684 dengan demikian metode ceramah berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa karena Ho ditolak.
Karena Ha diterima dengan keyakinan 95% maka metode ceramah berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa.
Adapun kuat pengaruh (koefisien determinasi) yaitu sebesar D = (0.2)2 100% = 4%
Jadi pengaruh metode ceramah dengan prestasi belajar siswa adalah 4% dan selebihnya yaitu 86% yang ditentukan oleh faktor lain, maka metode ceramah belum sepenuhnya mempengaruhi pretasi belajar siswa.

C. Hasil Penelitian
Setelah selesai pengolahan data sampai dengan perhitungan koefisien korelasi kedua variabel maka hasil penelitian ini akan dapat menjawab masalah yang dirumuskan, serta menolak atau menerima hipotesis.
Dari perhitungan di atas ternyata angka indeks korelasi antara variabel X dan variabel Y bertanda positif, berarti antara kedua variabel tersebut terdapat korelasi positif (korelasi yang berjalan searah). Dengan memperhatikan besarnya rxy yang diperoleh yaitu 0.14 yang dibulatkan menjadi 0,2 yang besarnya berkisar antara 0.00-0,20 yang berarti korelasi antara variabel X dan variabel Y itu termasuk korelasi positif yang sangat lemah atau sangat rendah.
Dengan ini hasil penelitian membuktikan bahwa metode ceramah dengan prestasi belajar siswa mempunyai hubungan, dengan kata lain metode ceramah berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa.




BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari penelitian yang penulis laksanakan bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara metode ceramah (x) sebagai variabel bebas dengan prestasi belajar siswa (y) sebagai variabel terikat siswa kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode analisis. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa/I kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Kabupaten Tangerang, dengan jumlah 42 orang, dan untuk jumlah sampel dalam penelitian ini di ambil seluruh populasi dengan jumlah 42 responden.

63
 
Data variabel bebas dan variabel terikat dikumpulkan melalui hasil angket dan hasil raport siswa. Teknik pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan cara distribusi  t dengan taraf signifikasi 5%, dan hasil penelitan menunjukan terdapat pengaruh antara metode ceramah dengan prestasi belajar siswa dengan koefisien korelasi (r) = 0.140 = 0.2 signifikan atau tidak, maka perlu diuji (to) t hitungnya.
Untuk mengetahui harga to signifikan atau tidak, maka harus melihat dengan harga ttabel  dengan dk (derajat kebebasan) adalah N-2 = 42-2 = 40. Diketahui harga ttabel dengan tingkat kesalahan 5% (taraf kepercayaan 95%), N=40 sebesar 1.684.
Jadi dapat diketahui harga to lebih kecil dari pada ttabel 0.89>1.684 dengan demikian metode ceramah tidak berpengaruh signifikan terhadap prestasi belajar siswa, maka Ho diterima dan Ha ditolak.
Dan koefisien diterminasi D = (0.2)2 100% = 4%, jadi pengaruh metode ceramah dengan prestasi belajar siswa adalah 4% dan selebihnya yaitu 86% ditentukan oleh faktor lain. Maka metode ceramah belum sepenuhnya mempengaruhi prestasi belajar siswa.

B. Saran-saran                                                                                                                         
Dengan selesainya penelitian dan berlandaskan kepada penarik kesimpulan dari analisa yang telah dilakukan, maka penulis menyampaikan saran-saran demi perbaikan penyelenggaraan pendidikan di sekolah menengah pertama islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua kabupaten Tangerang khususnya dan di sekolah menengah pertama yang lain pada umumnya.
Saran juga disampaikan demi perbaikan-perbaikan dalam pelaksanaan penelitian pada waktu yang akan datang, bagi para peneliti lain yang berminat meneliti objek yang  sama dengan yang penulis teliti. Dengan harapan penelitian pada masa yang akan datang akan lebih baik dan meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya., saran-saran tersebut antara lain:
  1. Seorang guru dalam proses belajar mengajar hendaknya dapat menggunakan metode yang sesuai dengan materi pelajaran yang akan disampaikan.
  2. Selain menggunakan metode yang sesuai, seorang guru hendaknya juga menggunakan media pengajaran sehingga kegiatan belajar mengajar di sekolah tidak membosankan.
  3. Seorang guru harus dapat memberikan bantuan dengan tepat pada saat siswa berada dalam kesulitan belajar.
  4. Saran terakhir di berikan kepada para mahasiswa yang berminat meneliti tentang prestasi belajar siswa, penulis menyarankan agar dapat meneliti tentang variabel  lain yang mempengaruhinya. Hal tersebut penting sehingga pada suatu saat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap prestasi belajar dapat di jelaskan dengan baik. Sehingga pada akhirnya untuk meningkatkan prestasi belajar dapat digunakan metode yang tepat dan efisien.
 
    







DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap penulis Mochammad Yayan Diyana. Lahir di Tangerang 18 Desember 1983. Pendidikan Dasar diselesaikan di Curug tahun 1993, kemudian berturut-turut Madrasah Tsanawiyah  (MTS) Curug selesai tahun 1999, dan Sekolah Menengah Umum (SMU) Curug selesai tahun 2002, kemudian dengan modal semangat penulis melanjutkan studinya ke STAI Muhammadiyah pada Fakultas Tarbiyah dan lulus mencapai gelar sarjana pendidikan agama islam (S. Pd. I) pada tahun 2008.
Semenjak penulis menempuh pendidikan formal, penulis aktif di beberapa organisasi dan kegiatan-kegiatan sekolah seperti OSIS, Pramuka, dan Pencak Silat.
Adapun saat ini penulis bertempat tinggal di Kitri Bhakti Jl. PUSDIKLAT PEMDA Sukabhakti Curug Tangerang Propinsi Banten.
Demikian daftar riwayat hidup penulis yang dapat penulis paparkan secara singkat.

Tangerang,      , September 2008
                                                                 

                                                                              Penulis

YAYASAN PONDOK PESANTREN AL-ASMANIYAH
SMP ISLAM AL-ASMANIYAH
Notaris : Ny. Netty Haerani Safikri, SH No. 2 Th 2003
SK. NO. 421/1375/Dis P dan K/2005/NSS: 202280306009
Jl. Diklat Pemda Dukuhpinang Kelapa Dua Tangerang Telp. (021) 5460402

 


SURAT KETERANGAN
NO: 54/YAPPA/SMPI/VIII/2008

Yang bertanda tangan di bawah ini Kepala Yayasan Sekolah Menengah Pertama Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang. Menerangkan bahwa:
Nama                           : Mochammad Yayan Diyana
NIM/NIMKO             : 0405020/4271010104022
Sekolah                       : STAI Muhammadiyah Tangerang
Jurusan                        : Tarbiyah/PAI
Benar telah melakukan penelitian di SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang guna menyelesaikan skripsinya dengan judul “Pengaruh Metode Ceramah Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Di Kelas VIII SMP Islam Al-Asmaniyah Kelapa Dua Tangerang”.
Demikianlah surat keterangan ini kami buat agar dipergunakan sebagaimana mestinya.
Tangerang, 20 Agustus 2008
Mengetahui,
Kepala Yayasan



H. Achmad Sholihan

KUISIONER METODE CERAMAH
DALAM MENINGKATKAN PRESTASI BELAJAR SISWA

Identitas Responden
Nama   :
Kelas   :
Petunjuk Pengisian
1.      Jawablah pertanyaan-pertanyaan angket berikut ini dengan memberi tanda check list (√) pada salah satu pilihan yang tersedia.
2.      Pendapat responden tidak berpengaruh terhadap nilai

No
Pertanyaan
SL
SR
KK
TP
1

2

3


4

5

6


7

8

9

10
Apakah dalam menyampaikan pelajaran guru agama hanya menggunakan satu metode?
Apakah dalam menyampaikan materi pelajaran guru agama memperhatikan keadaan siswa?
Apakah dalam menyampaikan materi pelajaran guru agama menggunakan metode yang sesuai dengan materi pelajaran?
Apakah pelajaran agama mendorong anda untuk rajin mempelajarinya?
Apakah dalam menggunakan metode ceramah guru agama dapat menyampaikannya dengan baik?
Apakah sebelum pelajaran dimulai guru agama mengemukakan pokok-pokok materi yang akan dibahas?
Apakah dalam kegiatan belajar guru agama memberi kesempatan bertanya kepada siswa?
Apakah dalam menggunakan metode ceramah guru agama menyampaikan dengan suara yang nyaring?
Apakah pelajaran agama islam yang diberikan di sekolah berpengaruh pada kehidupan anda sehari-hari?
Apakah sebelum menutup pelajaran guru agama memberikan kesimpulan dari materi yang telah diajarkan?






Keterangan:
SL       : Selalu
SR       : Sering
KK      : Kadang-kadang
TP        : Tidak Pernah



DAFTAR PUSTAKA

Abudin Nata, Dirasah Islamiyah I (Al-Qur’an dan Al-Hadits), (Jakarta: Raju Grafindo 1995).
Anomus, Kamus Umum Bahasa Indonesia, 1982
A. Tabroni Rusyan, Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengajar, (Bandung: Remadja Karya 1989).
H. Jamaludin, Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia 1999). Cet, ke-II
Hamzah Ahmad, Nanda Santoso, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Surabaya: Fajar Mulia 1996).
H. Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, (Bandung: Alfabeta 2005). Cet, ke-II.
H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Kalam Mulia 2004). Cet, ke-IV.
H. Syaiful Sagala, Konsep Dan Makna Pembelajaran, (Bandung: CV. Alfabeta 2005).
M. Ngalim Purwanto, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya 1995).
Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Professional, (Bandung: Remaja Rosda Karya 1990).
M. Athiyah, Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pokok Pendidikan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang 1993). Cet, ke-VII.
M. Ngalim Purwanto, MP. Ilmu Pendidikan Teoritis Dan Praktis, (Bandung: PT. Remaja  Rosda Karya 1989).
Muhibin Syah, Psykologi Pendidikan, (Bandung: IAIN SGD)
MB. Rahimsyah, Satyo Adhie, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Aprindo 2005).
Martinis Yamin, Strategi Pembelajaran Berbasis Kompetensi, (Jakarta: Gaung Persada Press 2004).
Raka Jhoni, Pengukuran Dan Penilaian Pendidikan, (Surabaya: Karya Anda 1986).
Rostiana NK. Masalah-masalah Ilmu Keguruan, (Jakarta: Bina Aksara 1986).
Riduwan, M. B. A. Dasar-dasar Statistika, (Bandung: Alfabeta 2003).
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek, (Jakarta: Rineka Cipta 1997).
Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta: PT. Rineka Cipta 2002). Cet, ke-I.
Sukadi, Guru Powerfull, Guru Masa Depan, (Bandung: Kolbu 2006).
UUS PN 2003.
W. Gulo, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: PT. Gramedia Widia Sarana Indonesia 2002.
Yusron Razak dkk, Pendidikan Agama, (Jakarta: Uhamka press, 2001).
Zuhairini dkk, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara 2004).
Zuhairini dkk, Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya: Usaha Nasional 1981).






4 komentar: